MENGHORMATI MEREKA YG BERPUASA

 Memasuki awal bulan Ramadhan ini, masjid2 mendadak menjadi ramai, tapi biasanya hanya diawal hingga pertengahan saja. Tapi mudah-mudahan Ramadhan kali ini akan tetap ramai sampai akhir Ramadhan.

Orang berpuasa adalah belajar sebuah ketiadaan: tidak makan, tidak minum, dan lain sebagainya. Orang berpuasa diharuskan bersikap ‘tidak’ kepada segala ketidakbaikan dunia. Menahan diri terhadap segala macam godaan dunia. Mengekang hawa nafsu terhadap sesuatu yang disenangi dan itu adalah perang frontal terhadap sesuatu yang sehari-hari merupakan tujuan dan kebutuhan kita.

Puasa berarti topo broto untuk diuji segala hal yang sifatnya keduniawian, yang meliputi semua nafsu. Mulai nafsu makan, minum, bercinta, menggunjing, marah, dan nafsu lainnya. Untuk mengetahui sejauh mana nafsu itu tidak membatalkan puasa kita, maka kita tidak perlu marah, tidak perlu protes kalau ada orang makan, minum di tengah orang-orang yang berpuasa. Bahkan kalau perlu, untuk menguji ibadah puasa kita, biarkan saja tempat-tempat hiburan yang biasanya buka tidak perlu ditutup. Puasa kita terlalu agung, terlalu indah untuk diributkan dengan hal-hal seperti itu. Dan Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia, maka justru dengan banyaknya godaan ini akan menjadi ujian yang sangat tangguh untuk keimanan kita.

Apa gunanya tempat hiburan wajib ditutup, kemudian dibuka lagi ketika Ramadhan telah berlalu? Maka tak heran, karena satu bulan tidak bertemu dengan yang namanya tempat hiburan, lantas melakukan balas dendam dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan. Ibadah Puasa yang selama satu bulan itupun menguap saja, tidak berbekas.

Orang beribadah puasa bukan lantas meminta dihormati. Ini namanya melecehkan ibadah puasa itu sendiri.. Orang yang beribadah puasa tidak butuh penghormatan, tidak butuh pengakuan, tidak butuh pujian. Puasa adalah puasa titik. Ibadah puasa adalah suatu kewajiban menolak segala sesuatu yang menjadi keinginan nafsunya. Walaupun tercium aroma masakan dari warung sebelah, melihat orang makan di rumah makan seberang jalan, kalau dia puasa pasti tidak tergoda. Apakah kita serendah itu, sehingga harus tergoda oleh aroma indomie? Lantas kenapa kita mesti ribut dan mengatakan mereka tidak menghormati orang puasa?

Yang puasa silahkan berpuasa, bukan berarti lantas melarang orang makan di depan hidungnya. Justru dengan banyaknya godaan akan menjajal dan menguji iman kita. Kalau kita gagal, yang rugi adalah kita sendiri, yang (tidak sengaja) menggoda tidak bisa disalahkan. Bahkan kalau kita marah karena ada orang makan minum merokok pada saat orang berpuasa, maka bobot puasa kita bisa berkurang. Hakiki dari nilai spritual puasa tidak bisa kita raih. Roh puasa itu sendiri tidak akan kita gapai, jika kita masih meributkan tata cara menghormati orang yang sedang melakukan ibadah puasa. Terlalu naif bila kita hanya menganggap puasa hanyalah menahan lapar dan dahaga.

Jika kita menuntut orang lain agar menghormati ibadah puasa kita, maka yang muncul adalah sikap yang justru melecehkan ibadah puasa kita sendiri. Sama saja artinya kita tidak percaya diri, kita tidak yakin dengan kemampuan akhlak kita. Kita tidak yakin bahwa kita bukan manusia yang lemah dan mudah tergoda. Maka kalau kita kuatir dengan banyaknya godaan pada ibadah puasa ini, mungkin sebaiknya kita menyendiri berpuasa di rumah atau di dalam hutan yang tidak ada godaannya.

Allah justru akan memberi bobot nilai lebih bagi mereka yang tahan terhadap godaan. Jadi mengapa masih meributkan untuk dihormati ibadah puasa kita. Justru sudah selayaknya, yang berpuasa menghormati yang tidak puasa. Yang berpuasa menyediakan makan, minum bagi tamunya yang sedang tidak berpuasa. Entah karena mereka butuh minum, butuh makan, atau bahkan karena mereka memang tidak berpuasa karena keyakinannya.

Apa salahnya yang berpuasa menghormati yang tidak berpuasa? Tapi apa salahnya juga mereka yang tidak berpuasa juga menghormati mereka yang berpuasa? Saya yakin, tidaklah sulit bagi mereka yang tidak berpuasa, tanpa diminta ataupun dipaksa dengan penuh kesadaran menghormati kita yang sedang berpuasa. Semua berpulang kepada kedewasaan kita.

By Om Frans